English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
NAHDLATUL ULAMA BERKOMITMEN TETAP MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Karena menurut NU, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia

Terorisme,Islam dan obyek Demonologi barat.

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Kamis, 06 Mei 2010 0 komentar


Demonology=The study of demons or evil spirits,atau secara terminologis,Demonologi merujuk pada suatu upaya perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang menakutkan.Dalam ilmu komunikasi,hal ini termasuk dalam labelling theory atau teori penjulukan,yang bisa direkayasa menjadi public opinion sedemikian hebat sehingga korban misinterpretasi menjadi hancur reputasinya dan tidak akan mampu bertahan.Dalam kaitannya dengan islam,maka demonologi adalah sebuah perekayasaan sistematis oleh dunia barat(baca:Amerika)untuk menempatkan islam dan pengikutnya agar dipandang sebagai bahaya,jahat,kejam sehingga menjadi ancaman yang sangat menakutkan.sehingga memunculkan islamophobia dikalangan masyarakat barat.Noam chomsky dalam bukunya yang berjudul:"Amerika memanfaatkan terorisme sebagai instrumen kebijakannya",mengatakan bahwa obyek utama demonologi Amerika adalah gerakan atau kekuatan-kekuatan Islam.
Seperti semua tahu,setelah Soviet runtuh,setelah perang dingin berakhir,AS(dan barat)membutuhkan legitimasi baru untuk kontinuitas ideologi kapitalis&liberalismenya,untuk menegaskan eksistensinya menjadi polisi dunia,'pengawal peradaban',untuk kehadiran militernya dan tentu saja untuk melestarikan industri alat perangnya,Amerika butuh musuh baru,musuh itu harus benar-benar riil dan bukan teori,maka harus ada "evil" baru yang harus dilawan oleh seluruh dunia,dengan komandan AS tentunya.inilah analisis yang sementara ini logis.permainan ini pada satu sisi memang berhasil menyeret dunia pada satu tahap baru dalam perang melawan kekuatan yang dipersepsikan sebagai jahat,dan kekuatan itu bernama gerakan islam.
Jadi patut disayangkan,karena usaha barat yang menempatkan gerakan islam sebagai sesuatu yang harus dilawan,justru diamini oleh (sekelompok)orang islam itu sendiri lewat apa yang mereka namakan sebagai Jihad.serentetan aksi teror yang belakangan kerap terjadi dinegara ini,dapat kita lihat siapakah yang paling banyak mengambil keuntungan. Umat islam sangat terpukul dengan kejadian-kejadian tersebut,apalagi ini terjadi dinegara yang mayoritas muslim yang korbannyapun sebagian muslim pula.logika sederhana akan mempertanyakan,mengapa jihad melawan musuh islam justru diarahkan secara ceroboh mengenai orang islam sendiri? Meski hotel (yang dibom) itu merupakan simbol eksistensi Amerika,toh pemilik JW Marriot - Ritz Carlton dan Amerika tidak terlalu rugi,karena kerusakan hotel tersebut akan ditanggung oleh pihak Asuransi.memang,kita tidak ingin memastikan bahwa beberapa peristiwa peristiwa teror dinegri ini diboncengi oleh rekayasa tingkat tinggi(CIA,FBI misalnya)tetapi berbagai kasus itu perlu dicermati agar kaum muslimin -yang mengatasnamakan jihad- tidak terjebak kedalam lubang yang digali 'orang lain'.karena bukan tidak mungkin ada skenario besar menggunakan ide dan teknik yang canggih sedang menggelar perangkap yang memanfaatkan semangat jihad segelintir orang!.
Akhirnya,sangatlah penting bagi kita untuk lebih merapat kepada para Salafusshaleh,ulama,agar kita dikembalikan kedalam pangkuan islam yang sebenarnya,islam yang ramah,islam yang damai.karena itu,mari kita perlihatkan kepada dunia wajah islam yang sesungguhnya.biar mereka tahu bahwa islam itu RAHMATAN LIL 'ALAMIIN.

*diekstrak dari tulisan Ir.Nabiel fuad Almusawa dan Adian husaini*

Mengenal Tokoh Sufi: SAYYIDAH NAFISAH

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Rabu, 31 Maret 2010 0 komentar


Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Hasan al-Anwar bin Zaid al- Ablaj bin Imam Hasan bin Imam Ali r.a.. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145 H, hidup dan besar di Madinah. Hijrah Ke Mesir Demi keamanan dan ketenangan hidup Sayyidah Nafisah berhijrah ke Mesir bersama suaminya, Ishaq al-Mu’tasim bin Ja’far as- Siddiq, pada tahun 193 H, setelah sebelumnya ziarah ke makam Nabi Ibrahim a.s.. Di Mesir beliau tinggal di rumah Ummi Hani’. Sayyidah Nafisah menetap di Mesir selama 7 tahun. Penduduk Mesir sangat menyayanginya dan percaya akan karamahnya. Mereka selalu berduyun-duyun mendatanginya, berdesakan mendengarkan mauizahnya dan memohon doanya. Hal ini membuat suaminya berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah Hijaz, namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz kerana aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Beliau berkata kepadaku: “Janganlah kamu pergi dari Mesir kerana nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”

Kepribadiannya.
Peribadinya Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari dia berpuasa sunat sedangkan pada malamnya dia bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Dia sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwanya rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan syurga Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah sangat taatkan suaminya. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suaminya dengan sebaik-baiknya. Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima wang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membahagikan wang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Wang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak diambilnya untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin. Keutamaannya Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil lagi. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : “Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku redha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: “Wahai Hasan Aku redha dengan puterimu Nafisah kerana keredhaanmu itu. Dan Allah SWT juga redha kerana redhaku itu. Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali. Sayyidah Nafisah dan Imam Syafie Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau. Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.” Karamahnya Sebelum menceritakan karamah- karamah Sayyidah yang mulia ini, perlu diketahui bahwa suami Sayyidah Nafisah (Ishaq bin al Mu’taman bin Ja’far ash Shadiq) pernah berkeinginan untuk memindah makam beliau ke pemakaman Baqi’ (Madinah). Kemudian penduduk Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan keinginannya, kerana penduduk Mesir ingin mendapatkan berkah darinya. Akhirnya, pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkahNya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah”. Di antara karamahnya ialah ketika pembantu Sayyidah Nafisah yang bernama Jauharah keluar rumah untuk membawakan air wudhu untuk beliau, pada waktu itu hujan deras sekali. Akan tetapi, tapak kaki Jauharah tidak basah dengan air hujan. Di antara karamahnya juga ialah, ada sebuah keluarga Yahudi yang tinggal di dekat kediaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu berkata: “Nak, kamu mahu apa ? Kamu mahu ke kamar mandi ?. Si anak tiba-tiba berkata: “Aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu.” Setelah si ibu minta izin pada Sayyidah Nafisah dan beliau memperkenankannya, keduanya datang ke kediaman Sayyidah Nafisah. Si anak didudukkan di pinggir rumah. Ketika datang waktu solat Zuhur, Sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudhuk di dekat gadis kecil itu. Air wudhuk beliau mengalir ke tubuh anak tersebut. Seperti mendapatkan ilham anak itu mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Dan seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali. Kemudian si anak pulang dan mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh ibunya. Dengan hairan dia bertanya: “Kamu siapa Nak?” “Aku puterimu.” Sambil memeluk si ibu bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Si anak kemudian bercerita dan akhirnya keluarga itu semuanya masuk Islam. Selain itu, pernah suatu ketika sungai Nil berhenti mengalir dan mengering. Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan memohon doanya. Beliau memberikan selendangnya agar dilempar ke sungai Nil. Mereka melakukannya. Dan seketika itu juga sungai Nil mengalir kembali dan melimpah. Karamah-karamah beliau setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638 H, beberapa pencuri menyelinap ke masjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan masjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940 , seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di masjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari masjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya. Wafatnya Al-Sakhawi bercerita, “Ketika Sayyidah Nafisah merasakan ajalnya sudah dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya, dan menggali kubur beliau sendiri di rumahnya. Kubur yang digalinya itu ialah untuk beliau sentiasa mengingatkan akan kematian. Kemudian beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak solat dan mengkhatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri, beliau solat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Ketika sudah sampai ajalnya dan beliau sampai pada ayat: “Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian (syurga) di sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal soleh yang selalu mereka kerjakan. ” (Surah Al-An’am: 127), beliau pengsan kemudian dan menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Maha Kasih Abadi pada hari Jumaat, bulan Ramadhan 208 H. Sewaktu disembahyangkan sangat ramai orang yang menghadirinya. Sehingga kini maqamnya diziarahi oleh pengunjung dari seluruh pelusuk dunia. Demikian kehebatan yang Allah anugerahkan kepada Sayyidah Nafisah yang terkenal dengan kewarakan kepada Allah dan ketaatannya kepada suami. Semoga ianya menjadi contoh buat generasi wanita akhir zaman ini.

Kopi dan Kaum Sufi

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar



kopi mendatangkan cahaya bagi rohani dan jasmani sejak lama bagi orang-orang makrifat.. Sayyid Abdurrohman bin Muhammad bin Abdurrohman bin Muhammad as-Saqqaf al-Husainy al-Hadramy dari marga al-Idrus (1070 H-1113 H) mengatakan dalam kitabnya Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qahwah: Biji kopi baru ditemukan pada akhir abad VIII H di Yaman oleh penemu kopi Mukha, Imam Abul Hasan Aliy asy- Syadziliy bin Umar bin Ibrahim bin Abi Hudaimah Muhammad bin Abdulloh bin al-Faqih Muhammad Disa’in (nasabnya bersambung hingga kepada seorang sahabat bernama Khalid bin Asad bin Abil Ish bin Umayyah al-Akbar bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay). Beliau adalah pengikut tarekat Syadiliyah, bukan pendirinya ( karena pendiri tarekat Syadiliyah, Imam Abu Hasan asy- Syadziliy telah wafat pada tahun 828 H) Dalam penemuan biji kopi, Imam Abul Hasan mendahului Imam Abu Bakr al-Idrus. Sehingga Imam Abul Hasan Aliy adalah penemu biji kopi sedangkan Imam Abu Bakr al-Idrus adalah penyebar kopi di berbagai tempat. Beliau menggubah syair mengenai kopi sebagai beikut: Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk Dengan pertolongan Alloh, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap. [Qahwah (kopi)], qaf adalah quut (makanan), ha adalah hudaa ( petunjuk), wawu adalah wud (cinta), dan ha adalah hiyam ( pengusir kantuk). Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia. Syeikh Abu Bakr bin Abdulloh al-Idrus berkata tentang kopi yang digemarinya: Wahai qahwatul bunn (kopi)! Huruf qaf di awalmu adalah quds ( kesucian), huruf kedua ha adalah hudaa (petunjuk), dan huruf ketigamu adalah wawu. Huruf keempatmu adalah ha, berikutnya alif adalah ulfah ( keakraban), lam sesudahnya adalah lutfh (belas kasih dari Alloh). Ba adalah basth (kelapangan), dan nun adalah nur (cahaya). Oh, kopi, kau laksana purnama yang menerangi cakrawala. Imam Hamzah bin Abdullah bin Muhammad an-Nasyiriy al- Yamaniy asy-Syafi’I, penduduk Zabid (832 H-936 H) adalah seorang sastrawan ulung yang ahli tumbuh-tumbuhan. Dia menggubah seribu bait nadzam mengenai kemukjizatan al-Qur”an, menulis kumpulan fatwa, dan menggubah nadzam lebih dari 80 bait mengenai manfaat kopi, yang antara lain isinya adalah kopi bisa membangkitkan semangat seseorang dan mengantarkannya mencapai kesuksesan. Disebutkan dalam kitab al-Iinas bahwa huruf ba dan nun pada kata bunn (kopi), masing-masing berarti bidayah (permulaan) dan nihayah (akhir/puncak), yakni mengantarkan seseorang dari awal langkah hingga akhir/sampai sukses. Nah, setelah uraian tentang kegemaran dan sanjungan ulama Sufi akan kopi, manfaat, serta falsafah tentangnya, apakah sobat Dliya’ masih akan menganggap kopi sebagai minuman yang harus dijauhi? KOPI ADALAH MINUMAN HALAL Mayoritas ulama tidak meragukan lagi kehalalan kopi. Dalam kitab Syarh al-’Ubab Syeikh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa menggunakan sesuatu yang jaiz sebagai sarana hukumnya tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuannya untuk kebaikan maka penggunaan sarana tersebut bernilai pahala, dan jika tujuannya untuk maksiat maka bernilai dosa (untuk meniru niat para ulama Sufi, lihat tips Dliya’ tentang Fatihah yang dibaca sebelum meminum kopi). Para ulama yang menghalalkan kopi antara lain: Syeikhul Islam Zakariya al-Anshori, Syeikh Abdurrahman bin Ziyad az-Zabidiy, Syeikh Zaruq al-Malikiy al-Maghribiy, Syeikh Abdulloh bin Sahl Baqusyair, Syeikh Muhammmad bin Abdulqadir al-Habbaniy, Syeikh Abdulmalik bin Disa’in, dll. Para ulama yang menyanjung kopi antara lain: Abu Bakr bin Abdullah al-Idrus, Abdurrahman bin ‘Aliy, Syeikh bin Ismail, Ahmad bin ‘Alawy Bajahdab, Abu Bakr bin Salim, Abdullah bin Alawy al-Haddad, Hatim al-Ahdal, as-Sudiy, Umar bin Abdulllah Bamakhramah beserta putranya, Al-Amudiy, dll. Banyak ulama Sufi yang berkomentar tentang kopi yang pada prinsipnya mereka menggemari kopi karena dengan meminumnya mereka lebih giat beribadah, terutama pada malam hari ketika banyak manusia yang tertidur lelap. Syeikh Umar bin Abdullah Bamakhramah, Syeikh Abdul Mu’thiy bin Hasan bin Abdullah bin Ahmad Bakatsir al-hadramiy (Makkah 905- Ahmadabad India 989 H) juga putranya yang bernama Ahmad dan beberapa nama lain menggubah nadzam dalam untaian bait yang amat banyak yang berisi sanjungan terhadap kopi sebagai minuman yang amat bermanfaat untuk penggiat ibadah kepada Alloh. Perhatikan dua bait syair berikut: Kopi memang hitam tapi menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya. Hitamnya kopi membuat hati orang-orang kelas tinggi memutih, sehingga mereka terpuji melebihi kebanyakan manusia. Sekarang tinggal pilihan sobat Dliya’, memilih kopi yang dipilih kaum Sufi sebagai penggiat ibadah (tentunya dengan mengikut niat mereka, dan toh mereka tak jatuh sakit karena meminumnya), atau malah meninggalkannya karena ketakutan yang tidak beralasan? Sumber: Tafriihul Quluub wa tafriihul Kuruub karya Sayyid Habib Umar bin Saqqaf (terjemahan, hal. 209-215 , Bintang Terang, Jakarta)

Maulid Nabi dan Kultus individu?

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Rabu, 24 Maret 2010 0 komentar

Di bulan Maulud ini, alhamdulillah, benak si Otong nggak bisa lepas dari Baginda Rasul Shalallahu ' Alaihi Wa aalihi wasallam . Ketika diundang peringatan mauludan di kampung sebelah, si Otong sampai tak kuasa menahan air mata waktu mas Krisna, sang penceramah, memutar MP3 asyraqal-an di penghujung ceramahnya. Suara-suara yang mengatakan bid'ah pada mauludan kali ini sudah nyaris tak terdengar di kampung itu, yang menurut mas Krisna waktu ngobrol2 sehabis ceramah, "alhamdulillah, berkat ceramah2 dan khutbah2 nya pak Haji Yunus beberapa waktu lalu, mereka yg tadinya suka menuduh bid'ah itu bisa dikasih pengertian". " Cuma sayangnya", lanjut mas Krisna, masih dengan logat Jawanya yg kental, "beberapa orang masih kuatir jangan2 mauludan, simthud dhurar, dan shalawatan bisa menjurus kepada kultus individu. Gimana tuh menurut mas Otong? Njenengan kan deket ke wak Haji Yunus. Bagi2 dong ilmunya". "Kalau soal deket sih, Ujang tuh lebih deket lagi", Si Otong nyengir, sambil mengisyaratkan tangannya ke arah Ujang yang lagi sibuk nyomot makanan sana sini. "Sayang memang wak Haji Yunus masih di luar kota , jadi nggak bisa hadir hari ini. Tapi gini lho, Jlitheng kakangku", si Otong menirukan gaya Bima memanggil Sri Kreshna di pewayangan :-), "prinsipnya adalah, bahwa sesuatu itu dikatakan KULTUS individu kalau ianya melebihi dari apa yang seharusnya layak diterima individu itu. Contohnya mas Krisna kedatangan tamu seorang siswa SMU, terus mas Krisna memuji-mujinya seperti layaknya memuji seorang PhD matematika lulusan UQ. Terus lagi, mas Krisna menanyakan persoalan matematika pada level doktoral yang rumit karena yakin akan mendapat jawaban yang tepat darinya. Nah, ini namanya mas Krisna telah mengkultuskan siswa SMU tadi". "Sebaliknya", lanjut Otong, "jika sesuatu itu kurang dari selayaknya, maka ini dinamakan PENGHINAAN. Contoh, dalam kasus tamu siswa SMU itu tadi, sampeyan mengajaknya ikut ngebantu ngerjain PR matematikanya Sheila, putri sampeyan yang masih SD itu, misalnya, karena menganggap pengetahuan matematika tamu itu cuman segitu. Nah, ini namanya penghinaan, bukan?". "Iya ya, mas Otong. Sebetulnya sederhana aja nggih prinsipnya", timpal mas Krisna, "jadi kalau yang bukan KULTUS dan bukan PENGHINAAN itu namanya ADIL, nggih to?" "Betul, mas Krisna. Adil, sesuai sabda Imam Ali AS, adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Nah, sekarang tinggal kita apply-kan saja prinsip ini kepada amalan2 macam simthud dhurar, barzanjian, shalawatan dan lain2 pujian2 kepada Rasul SAW itu. Apakah amalan2 itu termasuk kultus individu atau bukan?" "Lha, kalau mereka masih ngotot bahwa shalawatan dan pujian2 yang terlalu banyak dan terlalu sering itu masuk kategori kultus individu, gimana tuh?" tanya mas Krisna. "Ya kita minta aja mereka membuktikannya. Tentu saja, harus didukung nash Al Quran dan Hadits. Sejauh yg saya tahu, dan saya yakin mas Krisna juga tahu, nggak ada tuh ayat Quran dan Hadits yg membatasi kita dalam bershalawat dan memuji Rasul SAW. Artinya, di luar ibadah2 yang udah tertentu tatacaranya seperti shalat misalnya, kita boleh saja bershalawat sebanyak dan sesering kita mampu." "Iya ya, nggak ada pembatasannya ya." "Itulah, mas Krisna. Justru Al Quran memerintahkan kaum mu'minin untuk bershalawat ke atas Rasul SAW, sebab Allah dan malaikat-Nya pun bershalawat. Di ayat yang lain, ketika menceritakan Mi'raj-nya Rasul SAW, Al Quran menyatakan kedekatan Rasul SAW kepada Allah ibarat dua busur panah, atau lebih dekat lagi. Ini sebuah ketinggian maqam yang luar biasa, lebih tinggi dari sidratul muntaha, yang nggak ada mahluk lainnya bisa mendekati. Di ayat lainnya lagi, Al Quran mengatakan "innama akramakum 'indallahi atqakum", dan tidak ada seorangpun muslimin yang meragukan bahwa Muhammad SAW adalah yang paling taqwa di antara seluruh manusia, jin dan malaikat. Maka, jelas sekali kesimpulan dari Al Quran adalah: Muhammad SAW itu mahluk PALING MULIA di sisi Allah. Dengan keadaan yang seperti ini, maka hanya ada SATU saja pembatas dalam kita memuji- muji dan bershalawat kepada Muhammad SAW." "Saya tahu, mas Otong", sela mas Krisna, " pembatasnya adalah: tidak menganggap Muhammad SAW sebagai Tuhan, bukan?" "Benar sekali, mas Krisna. Itulah satu-satunya pembatas. Makanya, selama kita nggak menganggap Muhammad SAW itu Tuhan, selama kita nggak menganggap Muhammad SAW itu punya independent power, selama kita masih berkeyakinan bahwa Muhammad SAW itu adalah Mumkin al Wujud, dan bukan Sang Wajib al Wujud, maka selama itu pula kita boleh memuji, berterimakasih, dan bershalawat kepada beliau SAW dan ahlulbaitnya AhS sebanyak dan sesering mungkin. Sungguh, kalau Allah tidak menciptakan Muhammad wa aali Muhammad ( shallawatullah ' alaihim ), semesta dan seisinya, termasuk kita semua ini, tidak akan tercipta. Karena itu, ucapkanlah sesering mungkin, dibarengi kekhusyukan hati: Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad." Ya abal Qaasim, ya rasulallah, ya imam arrahmah, ya syafii'al ummah, ya kaasyifal ghummah Ya hujjatallahi 'ala khalqih, ya sayyidana wa maulana inna tawajjahna wastasyfa'na wa tawassalna bika ilallah wa qaddamnaaka baina yaday haajaatina fiddunya wal aakhirah ya wajiihan 'indallah, isyfa'lana 'indallah Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad

Ingin bangga jadi orang NU

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Selasa, 23 Maret 2010 0 komentar


"Afdolnya, ketua umum PB NU bukan dari kalangan politisi." Itu kata Mas Karso Wachidi, orang Cilacap, Jawa Tengah. Menurut warga NU yang amat setia itu, hanya orang yang punya semangat mengembangkan pemberdayaan masyarakat yang bisa mengubah gerakan NU yang sekarang melempem ini. Masih kata Mas Karso, selama ini arah gerakan NU lebih berorientasi elitis, mengerucut ke atas, melayani kepentingan para elite. Padahal, seharusnya gerakan NU berorientasi populis, melebar ke bawahuntuk menyejahterakan umat. Kalau tidak terjadi perubahan orientasi itu, NU akan tetap seperti sekarang; mati tidak, hidup juga tidak. Dengan begitu, kondisi warganya akan tetap serba tertinggal. "Menjadi orang NU saat ini tidak ada bangga-bangganya, malah sebaliknya, malu! Sebab, lembaga maupun warga NU sudah tercitra sebagai entitas yang ketinggalan zaman, terpecah-belah, dan lebih dimainkan untuk mendukung kepentingan kekuasaan para tokoh dan pemimpinnya. Saya ingin tidak malu lagi jadi orang NU. Tolong sampaikan perasaan saya ini kepada mereka yang di atas; percayakan kepemimpinan NU kepada orang yang benar-benar ingin berkhidmah kepada umat. Orang seperti ini bisa melihat alamat Allah pada wajah umat yang bodoh, dibodohi, miskin dan dimiskinkan. Dan itu jelas bukan dari kalangan politisi." *** Mas Karso adalah warga NU biasa. Kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan. Pekerjaannya pun tidak tetap. Kelebihan Mas Karso hanya pada kesetiaannya terhadap NU yang luar biasa, tahan banting. Namun, penilaian dan harapannya tadi tidak mungkin diabaikan. Mas Karso telah mengemukakan dan menggugat sesuatu yang sangat mendasar. Karena amat mendasar, bila gugatan itu tidak dipenuhi, NU akan kehilangan masa depan. Dan bisa dipastikan gugatan Mas Karso sesungguhnya mewakili suara hati banyak warga NU di tingkat akar rumput yang ingin bangga dan tidak lagi malu menjadi warga nahdliyin . Menurut alur pikir Mas Karso, kebanggaan menjadi warga NU mungkin terwujud hanya bila organisasi massa ini meninggalkan orientasi elitis dan berbalik 180 derajat menjadi berorientasi populis atau keumatan. Dengan orientasi itu, agenda-agenda untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan nyata umat harus menjadi prioritas utama. Masalah-masalah sosial yang membelit umat seperti pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi dan SDM akan menjadi agenda nomor satu. Pada sisi lain, kegiatan-kegiatan ritual-simbolik yang ternyata juga menyerap banyak sumber daya umat bisa dikurangi sampai ke titik yang lebih proporsional. Tentulah banyak warga nahdliyin yang setuju dengan pikiran Mas Karso, termasuk saya. Tapi, realitasnya hingga saat ini NU tetap berorientasi elitis dengan segala akibat negatifnya yang terlihat jelas. Pemenuhan kebutuhan umat akan sekolah yang baik, rumah sakit, koperasi, pendampingan di bidang pertanian masih sangat minim. Semua itu gara-gara NU tetap berorientasi ke atas. Hal tersebut mengingatkan saya kepada ucapan Gus Dur kepada saya pada sekitar 1996. Saat itu Gus Dur bilang kepada saya, "Bila NU tidak bisa memberikan manfaat nyata kepada umat dan hanya digunakan untuk membela kepentingan para elitenya, saya akan mengambil jarak dari kepengurusan." *** Kenyataan yang terbukti membuat NU makin payah ini pernah saya diskusikan dengan Mas Karso. "Mas, membalik orientasi NU ke arah kemaslahatan umat memang bagus. Tapi, apa hal itu mungkin dan tidak akan menjadi retorika belaka?" tanya saya. "Kenapa tidak mungkin?" "Mari kita renungkan. Dari namanya saja, NU sudah cenderung elitis. Bukankah NU berarti kebangkitan para ulama dan ulama adalah kelompok elite di kalangan umat? Dengan demikian, NU juga milik para ulama. Maka, NU mau diberi orientasi ke mana pun adalah hak si pemilik. Umat hanya menempati posisi objek yang harus taat saja. Iya kan ?" Mata Mas Karso terbelalak. Dia mengusap-usap dahi dan wajahnya tampak gagap. "Sampean benar dan itulah kenyataannya. Tapi, nanti dulu. Dalam hal keagamaan, umat memang wajib taat kepada pemimpin, dalam hal ini para ulama. Itu kewajiban umat yang sudah jadi harga mati. Tapi, NU adalah sebuah organisasi massa. Jadi, kepentingan dan kesejahteraan umat itulah, yang utama. Dan itu menjadi kewajiban harga mati para pemimpin. "Jelasnya begini," sambung Mas Karso. "Saya meyakini NU adalah kendaraan umum buatan para ulama- mukhlisin (ulama yang ikhlas, Red), disopiri para ulama- mukhlisin untuk mengangkut umat..." "Ke mana?" potong saya. "Ya, mestinya bukan ke arah yang lain -kepentingan para pemilik untuk meraih kekuasaan misalnya- tapi ke arah kemaslahatan umat. Yang dituju oleh NU mestinya masyarakat nahdliyin yang maju pendidikannya karena dulu para ulama sudah membangun lembaga tasfirul afkar ; yang maju ekonominya karena semangat nahdlatut tujar , serta yang maju jiwa kebangsaannya karena semangat nahdlatul wathan . Bila NU dibawa atau dipakai untuk mencapai kekuasaan, siapa yang membawanya? Ulama atau bukan ulama?" Saya diam dan senyum. "Kendaraan NU buatan para ulama-mukhlisin harus diarahkan menuju kemaslahatan umat," tegas Mas Karso. "Dan itu hanya mungkin dicapai bila NU dipimpin oleh orang yang bisa menangis ketika melihat keterbelakangan umat dan pemimpin seperti itu pasti bukan dari kalangan politisi?" tanya saya mengulang. Saya melihat Mas Karso mendesah panjang. "Sebenarnya tidak demikian benar. Politikus, kalau dia juga negarawan, tentu bisa merasa terharu ketika melihat jutaan umat yang miskin, bodoh, dan sakit- sakitan. Masalahnya, masih adakah politikus-negarawan saat ini. Tidak! Politikus Indonesia saat ini adalah kaum yang kemaruk dan manja, pragmatis semua, dan selalu bermimpi tentang kejayaan diri. Umat dinomorsekiankan." "Baik, Mas Karso, saya setuju. Dengan demikian, siapa pilihan sampean untuk calon rais am dan ketua umum PB NU?" "Ah, saya kan tidak punya hak memilih. Walaupun begitu, saya punya kriteria. Yakni itu tadi; siapa saja yang bisa membuat kita tidak lagi merasa malu menjadi orang NU, silakan memimpin NU dan kita dukung. Mereka haruslah orang yang bisa melihat kemiskinan dan kebodohan umat sebagai alamat Allah. Dan kepada falah yang diridai Allah-lah, mereka akan membawa kita," jawab Mas Karso dengan mata menyala-nyala.

NU dan Kemiskinan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar


DALAM Muktamar Ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar yang ramai dibicarakan adalah soal calon pengurus, baik syuriyah maupun tanfidziyah PBNU. Pembicaraan kandidat rais aam dan ketua umum PBNU memang penting tetapi membahas program guna mengatasi persoalan umat juga sangat penting. Kalau yang pertama menyangkut intern organisasi, yang kedua selain intern juga mengait ekstern organisasi karena yang terakhir ini bertaliandengan sumbangsih NU dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Salah satu persoalan klasik yang dihadapi umat adalah masalah kemiskinan. Tentu masalah ini juga mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, terutama pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga lain, termasuk asing. Sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan, NU juga tidak mau ketinggalan berperan serta dalam mengatasi masalah kemiskinan ini. Bahkan sejak awal berdirinya, organisasi keagamaan tradisional ini telah merintis gerakan ekonomi kerakyatan yang diberi nama oleh KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai nahdlatu al-tujar ( kebangkitan perdagangan). Kemudian pada Muktamar Ke-1 tanggal 21 Oktober 1926 , NU antara lain membahas masalah hasil usaha suami istri (harta gono gini), dan masalah upah pekerja. (Ahkam Al-Fuqoha, hlm. 18). Hal ini menunjukkan bahwa NU berupaya agar masyarakat tidak hanya mencari bekal akhirat semata tetapi juga mencari kebahagiaan di dunia. Biro Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan ekonomi dalam mendefinisikan kemiskinan. Data dari BPS menunjukkan bahwa jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada 1996 jumlah penduduk miskin 34 ,01 juta ( 17 ,47 %) dan pada 1999 menjadi 47 ,97 juta (23 ,43 %). Berarti pada tahun 1996-1999 terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin 13 ,96 juta karena adanya krisis ekonomi. Kemudian tahun 2002 penduduk miskin berubah menjadi 38 ,40 juta, berarti terjadi penurunan dari 47 , 97 juta (23 ,43 %) pada 1999 menjadi 38 ,40 juta (18 ,20 %) pada 2002. Selanjutnya jumlah penduduk miskin turun lagi menjadi 35 ,10 juta (15 ,97 % ) pada 2005. Namun meningkat lagi jumlahnya pada Maret 2006 menjadi 39 ,05 juta (17 ,75 %). Dari data tersebut menunjukkan bahwa belum banyak prestasi pemerintah dalam menanggulangi masalah kemiskinan ini. Kemiskinan membuat jutaan anak-anak tidak bisa menempuh pendidikan berkualitas, dan mengalami kesulitan membiayai kesehatan. Kemiskinan juga telah membatasi hak-hak rakyat dalam memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan, dan memperoleh perlindungan hukum, memperoleh rasa aman. Juga membatasi hak untuk memperoleh akses atas kebutuhan hidup yang terjangkau, memperoleh akses atas kebutuhan kesehatan, memperoleh keadilan, dan bahkan hak mereka dalam berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik dan pemerintahan. Dari berbagai analisis menganai kemiskinan di Indonesia dapat dipahami adanya tesis umum bahwa, kemiskinan yang terjadi bukan disebabkan karena penduduk miskin tidak mempunyai faktor-faktor kultural yang dinamis. Mereka miskin karena kesempatan-kesempatan tidak diberikan kepada mereka. Dengan adanya kesenjangan lebar antara penduduk kaya dan miskin maka upaya (ikhtiar) NU tidak sekadar mengentaskan (warga dari) kemiskinan tersebut dari sudut pandang agama, seperti mendorong pemeluknya giat beribadah dan bekerja secara seimbang serta distribusi sedekah, infak, zakat dan kurban semata, tetapi juga melakukan upaya advokasi kebijakan dan pendampingan kepada penduduk miskin untuk melakukan usaha ekonomi produktif. Tolong-menolong Gerakan ekonomi NU yang menonjol diekspose adalah pada masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan mendirikan beberapa Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusuma serta mendirikan koperasi dan ruko serta rukan. Hal ini dilanjutkan oleh KH Hasyim Muzadi dengan mendorong PCNU mendirikan baitul mal wa tamwil (BMT) seperti di Semarang, Magelang dan daerah-daerah lain. Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan mempunyai program menarik yang dinamakan Nahdliyyin Centre ( NC). Konsep dasar NC ini adalah orang miskin menolong orang miskin. Banyak kegiatan sosial ekonomi yang mereka lakukan sebagai upaya tolong menolong ( taĆ­awun) dan kerja sama (syirkah) di antara mereka. Kemudian yang berbentuk advokasi kebijakan misalnya dilakukan oleh PWNU NTB dengan mendirikan Madrasah Anggaran yang merupakan ikhtiar mendorong warga untuk berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan di daerahnya. Kemudian PCNU Jepara dan PCNU Situbondo melakukan hal serupa dengan menggelar berbagai halaqah (diskusi) bedah APBD dengan mengikutsertakan para kiai, santri, dan tokoh masyarakat agar pemerintah lebih berkomitmen mengalokasikan anggaran untuk keperluan publik. Berbagai gerakan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian NU dalam masalah kemiskinan tersebut masih terbatas. Karena itu, melalui muktamar ke-32 , kita berharap agar hal ini dapat meluas menjadi gerakan sosial di kalangan nahdliyyin. (10) — Mohamad Muzamil, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah

MAULID NABI SAW DAN HAUL SYEH HASAN TAHUN 2010

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Kamis, 04 Maret 2010 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Rabu, 03 Maret 2010 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar


Kyai Hasan Hayyi Al-Hafidh Di Makbaroh Bulu Dalam Peringatan Haul

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Kyai Mudhofir Dan Kyai Mahful

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Selasa, 02 Maret 2010 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Senin, 01 Maret 2010 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Foto Pelaksanaan Maulid Dan Haul Syekh Hasan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

RUSMAT

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Ketua:Ahmad Na'im
Sekretaris:Edi
Bendahara:Zainal Arifin

ROTIB AL KUBRO

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar

Jama'ah Rotib al-Kubro merupakan bagian tak terpisahkan dari jama'ah Musholla baitul Hasan keboijo Petarukan,Meski demikian,secara struktural jama'ah rotib al kubro di musholla ini tidak mempunyai susunan kepengurusan, jama'ah ini hanya berjalan menjadi unit kegiatan dibawah musholla.
Unit ini mempunyai kegiatan rutin setiap malam Sabtu bertempat di musholla,namun jika ada jama'ah yang berhajat mengundang maka 'rotiban' bisa dilaksanakan ditempat shohibul hajat.
Adapun Jama'ah di Jakarta, para pendatang asal petarukan ini mengadakan rutinan pembacaan Rotibul Kubro tiap malam Rabu bertempat di Majlis Ta'lim Al Barokah, Jl. H. Nawi XII Pondok pinang Jakarta Selatan pimpinan Ustadz Muchari ( Pak Heri ).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
INGAT, PEMILU / PILKADA JANGAN GOLPUT :
SATU SUARA ADALAH SATU HARAPAN JIKA SATU SUARA TERBUANG BERARTI SATU HARAPAN HILANG
JIKA ANDA GOLPUT ANDA KEHILANGAN KESEMPATAN MEMPERBAIKI BANGSA INI

PEMBERITAHUAN LAMAN INI MENERIMA SUMBANGAN ARTIKEL KEASWAJAAN, KEBANGSAAN DAN KEINDONESIAN Kirimkan Artikel anda ke : alhasan-petarukan@gmail.com