English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
NAHDLATUL ULAMA BERKOMITMEN TETAP MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Karena menurut NU, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia

PEDANG SAUDI RONTOKKAN PANCASILA

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Jumat, 17 Agustus 2012



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan sikap, yang terus terang amat menggembirakan bagi umat yang toleran dan cinta damai.

Walaupun Aqil Siraj tidak secara tegas menunjuk organisasi mana, namun Aqil Siraj telah secara jelas dan tegas menyatakan: “Bahwa Pancasila penting ditegakkan apalagi ini keputusan yang telah ditetapkan oleh pendiri bangsa yang mewakili seluruh elemen masyarakat, elemen agama dan elemen golongan, yang menurutnya Pancasila adalah dasar dan falsafah bernegara.”. Beliau melanjutkan, “Dengan demikian tidak perlu ada aspirasi untuk mendirikan negara Islam, karena nilai-nilai dan aspirasi Islam telah diejawantahkan dalam Pancasila”. Tribunnews, Jumat, 01 Jun 2012.

Ini adalah pernyataan yang jelas, walaupun tidak secara telanjang menginstruksikan pengusutan organisai preman beragama yang seringkali mencatut nama Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Tentu pernyataan Prof. DR. KH Aqil Siraj ini keluar tanpa sebab musabab yang melatarinya. Sebab yang baru saja kita dengar, gerombolan preman mengatasnamakan Ahlus Sunah tengah merencanakan penyerangan Ponpes Darus Sholihin Pimpinan Habib Ali al-Habsyi, ulama sepuh berusia 75 tahun dan menetap sejak tahun 1964 di Jember, dan selama itu beliau berdakwah dan membina masyarakat Puger dengan faham Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Peristiwa itu dimulai pada tanggal 30 Mei 2012 ketika terdengar bisik-bisik dari beberapa oknum yang memprovokasi masyarakat supaya membakar Ponpes Darus Sholihin pada tanggal 7 Juni 2012 lalu. Seperti biasa, motif yang dibawakan adalah isu Sunnah dan Syiah, padahal, Ponpes Darus Sholihin Puger Kulon Jember adalah menganut faham Sunni Syafii. Baca kronologi lengkapnya disini.

http://satuislam.wordpress.com/2012/06/03/gerombolan-anti-habaib-rencanakan-serang-ponpes-darul-sholihin-pimpinan-habib-ali-al-habsyi/Tautan

Tapi apa kira-kira yang membutakan begitu rupa mereka yang mengaku sebagai “ulama”? Adakah ini karena bisik-bisik berbisa satu dua “ulama” Albayyinat yang menjadi penasehat dan dan tokoh utamanya, seperti santer terdengar baru-baru ini, dan dalam beberapa tahun terakhir? Ataukah ini lebih karena Albayyinat sebenarnya sedang mencoba memainkan ‘kartu Saudi’, berharap aliran fulus Dinasti Saud di Arab Saudi yang kerap ‘membayar mahal’ mereka yang gemar menyesatkan mazhab Islam di luar mazhab resmi kerajaan Saudi Arabia?

Lupa pula kah mereka kalau semua agama Samawi, mau itu Kristen atau Yahudi, punya banyak percabangan dan mazhab termasuk Islam? Jika Albayyinat mau pasang badan untuk Ahlussunah, mana kiranya di antara mazhab Kristen yang bakal dia pilih dan izinkah hidup di Indonesia dan mana mazhab Islam yang bakal dinyatakan haram dan bakal diberangus?

Di berbagai blog abal-abal model TAKFIRI, seperti voa-islam, arrahmah, mukminun, suara-islam dan seperjuagannya disana umat senantiasa disuguhi kue pertikaian mazhab dan agama. Dan itu malah semakin menguatkan kecurigaan umat sebangsa, bahwa banyak dari para penganut agama model TAKFIRI seperti mereka ternyata hanya terpesona oleh wajah belaka, tapi tidak terbuka mata hati dan telinganya. Apakah mereka dengan gegabah telah menganggap bumi Indonesia, milik kerajaan Saudi Arabia?

Maka kali ini saya bersepakat dengan Prof. DR. KH Aqil Siraj, untuk menegakkan Pancasila sebagai dasar negara

WAHABISME: ALHAMDULILLAH ATAU INNALILLAH?

Di tengah kecenderungan masyarakat Islam yang dianggap mengidap penyakit TBC (takhayyul, bid’ah, dan Khurafat), Wahabisme muncul untuk menghancurkannya. Dengan semboyan al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah (kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits) mereka berdakwah untuk mengajak umat Islam mengikuti ajaran Islam yang benar: Wahabisme.

Berpusat di Arab Saudi, Wahabisme yang didirikan oleh Muhammad ibn Abdul Wahab ibn Sulaiman al-Najdi pada abad ke-18, adalah salah satu sekte berpaham keras dalam Islam. Muhammad ibn Abdul Wahab lahir di Uyaynah, termasuk daerah Najd, bagian timur Kerajaan Saudi Arabia sekarang, tahun 1111 H/1699 M dan meninggal dunia tahun 1206 H/1791 M. Ia belajar ke sejumlah guru terutama yang bermazhab Hanbali. Ayahandanya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim (qadhi) pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal.

Kelompok Wahabi mengklaim dapat mengembalikan umat Islam kepada ajaran Islam dan akidah yang murni. Mereka ingin kembali kepada al-Qur’an dalam makna yang harafiah. Al-Qur’an dianggap hanya deretan huruf yang tak berkaitan dengan konteks di sekitar. Dengan pendekatan ini, mereka menolak sejumlah tradisi (al-‘urf) yang tumbuh subur dalam masyarakat. Semua keadaan ingin dikembalikan pada keadaan zaman Nabi Muhammad. Mereka tak setuju rasionalisme yang berkembang dalam filsafat Islam. Demi literalisme al-Qur’an, Ushul Fikih mereka acuhkan.

Literalisme kaum Wahabi terus mengungkung mereka. Wahabisme menghendaki Islam yang “murni” dan “asli”—tentu dalam pengertian mereka. Dengan semangat purifikasi ajaran Islam, mereka menampik sejarah. Wahabisme menyeleksi kemodernan. Islam dalam pengertian Wahabisme tak boleh dijamah tangan ilmu pengetahuan. Itu sebabnya, tak aneh jika tahun 1920-an, Wahabi mengharamkan telepon dan radio masuk Mekah. Akibatnya, pemurnian berujung di jurang kegagalan. Wahabisme tak dikehendaki umat Islam. Sebagian ulama Sunni tak menghendaki jika Wahabisme dianggap menjadi bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kakak kandung Muhammad ibn Abdul Wahab sendiri, Sulaiman ibn Abdul Wahab, menolak keras ideologi Wahabisme.

Wahabisme sebenarnya tak punya teologi yang unik. Ia hanya mendramatisasi doktrin-doktrin lama yang cenderung kaku dan rigid. Sebagaimana umumnya umat Islam lain, Wahabisme mendasarkan ajaran dan doktrinnya pada tauhid. Jika Mu’tazilah mengkampanyekan tauhid, begitu juga yang dilakukan Wahabisme. Lalu ada apa dengan konsep tauhid Wahabisme? Sejumlah pihak menilai bahwa tauhid Wahabisme adalah tauhid ekstrem. Dengan konsep tauhidnya, Wahabisme mudah menjatuhkan vonis kafir kepada kelompok-kelompok Islam yang berbeda tafsir dengan dirinya. Mereka tak menyetujui tawassul, ziarah kubur, tradisi tahlil, dan lain-lain. Ujungnya adalah penghalalan darah orang lain untuk ditumpahkan. Walau tak mengaku sebagai pelanjut Kelompok Khawarij, Wahabisme memiliki kesamaan gerakan: menyukai kekerasan. Alkisah, makam Zaid al-Khaththab—saudara kandung Sahabat Umar ibn Khaththab—pernah dihancurkan Kelompok Wahabi. Tahun 1802, mereka menyerang Karbala.

Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlah ma’had atau pesantren yang mengusung ideologi Wahabisme bermunculan. Seorang teman yang sedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat tak kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang menyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding data statistik pesantren di Indonesia yang mencapai ribuan jumlahnya, angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangat merisaukan. Wallahu A’lam bis Shawab. Sumber : http://emka.web.id/ke-nu-an/2011/wahabisme-alhamdulillah-atawa-innalillah/

Ada hal yang menarik pasca peristiwa penyerangan Pesantren Syi’ah di Sampang, Madura Kamis (29/12/2011) yang lalu. Yaitu pendapat pucuk pimpinan dua ormas utama kelompok Sunni dan Syi’ah di Indonesia, keduanya sama-sama berpendapat ada aktor intelektual di balik peristiwa tersebut, yang bermaksud mengadu domba pengikut Sunni dan Syi’ah. Hal itu sama-sama diungkapkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Agil Siraj, dan juga oleh Ketua Dewan Syura Ikatan Jama'ah Ahlulbait Indonesia (IJABI), organisasi yang mengayomi penganut madzhab Syi’ah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.

Menanggapi kejadian itu, KH Said Agil Siraj menduga bahwa ada skenario besar di balik aksi penyerangan terhadap pesantren penganut Syiah tersebut. Menurut Kiyai Said, mustahil peristiwa tersebut terjadi tanpa ada pihak yang sengaja membuatnya. Karena kerukunan hidup beragama antara warga Sunni dan Syi’ah di daerah itu sebelumnya baik-baik saja.

Tindakan penyerangan dan pembakaran pesantren Syiah itu diduga kuat dilakukan oleh sekelompok orang yang sudah diprovokasi oleh pihak tertentu dengan tujuan merusak kondisi damai tersebut. "Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia," ujar Kiyai Said di Jakarta, pada hari Sabtu (31/12/2011).

Selanjutnya Kiyai Said mengatakan, indikasi lain dari dugaan tersebut adalah latar belakang tindakan penyerangan pesantren Syi’ah di Sampang yang bermula dari perselisihan dua keluarga pimpinan dua pondok pesantren (ponpes) di daerah itu yang masih bersaudara. Menurut Kiyai Said, Sunni dan Syi’ah di Madura, baik di masa lampau maupun sekarang, sama sekali tidak pernah terlibat perselisihan.

"Artinya jelas, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan," papar Kiyai Said menegaskan.

"Artinya jelas, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan," papar KH Said Agil Siraj menegaskan.

Oleh karena itu Pemerintah dan aparat keamanan diminta untuk bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. Lebih lanjut lagi Kiyai Said meminta semua pihak agar bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. "Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari," ungkapnya.

Namun ketika ditanya tentang pihak lain yang diduga sengaja mengadu domba masyarakat di Madura, Kiyai Said enggan membeberkannya secara berterang. Dia hanya meminta Pemerintah dan aparat penegak hukum bekerja lebih keras agar aksi serupa tidak meluas dan terulang lagi. "Kalau saya yang mengatakan nanti dikatakan fitnah. Tapi kalau saya saja sudah tahu, polisi dan Pemerintah harusnya lebih tahu. Mereka harus bekerja lebih keras mengatasi permasalahan ini," pungkasnya.

Senada dengan sinyalemen Ketua Umum PBNU di atas, pucuk pimpinan ormas Syi’ah di Indonesia pun berpendapat sama, yakni ada aktor intelektual di balik peristiwa tersebut, yang bermaksud mengadu domba pengikut Sunni dan Syi’ah. Dalam hal ini, Jalaluddin Rakhmat, selaku Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), yaitu organisasi yang mengayomi penganut madzhab Syi’ah di Indonesia, menengarai adanya unsur politik di balik penyerangan pondok pesantren penganut Syi’ah tersebut. Dugaan itu, menurutnya, jelas tergambar di media-media sosial di internet. "Ada kepentingan politik, kita lihat di internet aliran politik mana yang berkepentingan. Kita lihat blog-blog juga begitu," cetus Jalaluddin kepada para wartawan di kantornya, di Jalan Kemang, Jakarta, pada hari Sabtu (31/12/2011).

Lebih lanjut lagi Jalaluddin mencurigai bahwa konflik Sunni-Syi’ah di Indonesia sengaja dimunculkan karena ada kepentingan politik yang berasal dari konflik di Timur Tengah.

"Saya ingin berikan beberapa contoh, konflik Syiah memuncak di Sampang, ada aufmerk action atau action getting, mengungkapkan perseteruan Syi’ah-Sunni, kenapa muncul belakangan ini di Timur Tengah, ada penjungkalan pimpinan yang berawal dari konflik seperti di Tunisia, Mesir, lalu ke Libya, dan sekarang Syria," paparnya.

Menurut Jalaluddin, konflik Sunni-Syi’ah sepanjang sejarahnya juga dipicu adanya kepentingan politik. Ia mencontohkan peristiwa konflik yang terjadi di Irak dimana Amerika Serikat ikut campur dalam pertikaian tersebut. "Kita bisa berguru dari orang-orang Sunni-Syi’ah di Irak, mereka sepanjang jalan di kota hidup damai. Sampai datang Amerika, pertentangan pun dimulai, dikirim satu kelompok khusus dari Arab Saudi di bawah pimpinan Zartowi, kemudian muncul pembunuhan Syi’ah. Mereka melakukan serangan-serangan, hampir akan terjadi kehancuran Irak, supaya Syi’ah tidak melakukan perlawanan," pungkasnya.

"Kita bisa berguru dari orang-orang Sunni-Syi’ah di Irak, mereka sepanjang jalan di kota hidup damai. Sampai datang Amerika, pertentangan pun dimulai, dikirim satu kelompok khusus dari Arab Saudi di bawah pimpinan Zartowi, kemudian muncul pembunuhan Syi’ah. Mereka melakukan serangan-serangan, hampir akan terjadi kehancuran Irak, supaya Syi’ah tidak melakukan perlawanan," ungkap Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jama'ah Ahlulbait Indonesia (IJABI), organisasi yang mengayomi penganut madzhab Syi’ah di Indonesia.

Sebelumnya diberitakan, bahwa kompleks pesantren milik warga Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, telah diserang dan dibakar oleh sekelompok orang pada hari Kamis (29/12/2011) yang lalu. Dugaan yang muncul saat peristiwa terjadi, penyerangan tersebut dilakukan karena warga tidak terima dengan keberadaan kelompok Syi’ah di daerah itu. Sementara Mabes Polri berpendapat bahwa pembakaran tersebut dipicu oleh konflik keluarga antara pimpinan Ponpes Syi’ah, Kiyai Tajul Muluk, yang beseteru dengan saudara kandungnya sendiri bernama Kiyai Rois, pimpinan sebuah pondok pesantren Islam-Sunni di daerah tersebut.

Kini timbul sebuah pertanyaan yang masih belum terjawab. Kalau dugaan Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siraj, dan juga dugaan Ketua Umum IJABI, Jalaluddin Rakhmat, tersebut benar adanya, maka… Siapakah pihak yang berkepentingan mengadu domba kelompok Sunni dan Syi’ah di Indonesia?







*Sebuah Catatan*

Saat membicarakan Khitthah Nahdlatul Ulama dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Situbondo 16 Rabiul Awwal 1404 H / 21 Desember 1983, ada 3 Sub Komisi Khitthah yang masing-masing dipimpin oleh KH. Tholchah Mansoer; Drs. Zamroni, dan H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) - rahimahumuLlah.

Gus Dur waktu itu memimpin Sub. Komisi Deklarasi yang membahas tentang Hubungan Pancasila dengan Islam. Dan Deklarasi di bawah inilah hasilnya:

*Bismillahirrahmanirrahim*

1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia

bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

2. Sila "Ketuhanan Yang Maha Esa" sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

3. Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara manusia.

4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya.

5. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua pihak.

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Situbondo, 16 Rabiul Awwal 1404 H / 21 Desember 1983 M

***Rapat untuk merumuskan Deklarasi di atas, hanya berlangsung singkat sekali. Pimpinan (H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) membuka rapat dengan mengajak membaca AL-Fatihah. Lalu mengusulkan bagaimana kalau masing-masing yang hadir menyampaikan pikirannya satu-persatu dan usul ini disetujui. Kemudian secara bergiliran masing-masing anggota Sub Komisi -- dr. Muhammad dari Surabaya; KH. Mukaffi Maki dari Madura; KH. Prof. Hasan dari Sumatera; KH. Zarkawi dari Situbondo; dan . A. Mustofa Bisri dari Rembang - berbicara menyampaikan pikirannya berkaitan dengan Pancasila dan apa yang perlu dirumus-tuangkan dalam Deklarasi.

Setelah semuanya berbicara, Pimpinan pun menkonfirmasi apa yang disampaikan kelima anggota dengan membaca catatannya, lalu katanya: "Bagaimana kalau kelima hal ini saja yang kita jadikan rumusan?" Semua setuju. Pimpinan memukulkan palu. Dan rapat pun usai.K. Kun Solahuddin yang diutus K. As'ad Samsul Arifin untuk 'mengamati' rapat, kemudian melapor ke K. As'ad. Ketika kembali menemui Pimpinan dan para anggota Sub Komisi, K. Kun mengatakan bahwa K. As'ad kurang setuju dengan salah satu redaksi dalam Deklarasi hasil rapat dan minta untuk diganti. Sub Komisi Khitthah pun mengutus A. Mustofa Bisri untuk menghadap dan berunding dengan K. As'ad. Hasilnya ialah Deklarasi di atas.Yang masih menyisakan tanda Tanya di benak saya selaku 'saksi sejarah', bagaimana Gus Dur bisa begitu cepat menyimpulkan semua yang disampaikan anggota Sub Komisi dan kelimanya -termasuk saya-- merasa bahwa kesimpulan yang dirumuskannya telah mencakup pikiran kami masing-masing. Dugaan saya, Gus Dur sudah "membaca" masing-masing pribadi kami dan karenanya sudah tahu apa yang akan kami katakan berkenaan dengan Pancasila, lalu menuliskan kelima butir rumusan tersebut. Dugaan ini sama atau diperkuat dengan fenomena yang masyhur: ketika Gus Dur sanggup menanggapi dengan pas pembicaraan orang yang -padahal-- pada saat berbicara, Gus Dur tidur.

Wallahu a'lam.



s

1 Responses to PEDANG SAUDI RONTOKKAN PANCASILA

  1. Harsono Love Says:
  2. Saya setuju NU berjuang untuk PANCASILA.Kalau NU bisa menerima syiah,mestinya juga bisa menerima Wahabi walau ada perbedaan.Mana besar perbedaan antara Aswaja dengan Syiah,dibanding Aswaja dengan Wahabi ? Apa antum sudah tahu keadaan Sunni di Iran dan Iraq ,juga di Suriah ? Apa antum mendengar berita bahwa Aswaja ingin dibenturkan dengan Wahabi oleh kelompok yang memang tidak pernah akur/damai dengan Wahabi.Semoga antum bijak dalam upaya menjalin ukhuwah islamiyah.

     

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
INGAT, PEMILU / PILKADA JANGAN GOLPUT :
SATU SUARA ADALAH SATU HARAPAN JIKA SATU SUARA TERBUANG BERARTI SATU HARAPAN HILANG
JIKA ANDA GOLPUT ANDA KEHILANGAN KESEMPATAN MEMPERBAIKI BANGSA INI

PEMBERITAHUAN LAMAN INI MENERIMA SUMBANGAN ARTIKEL KEASWAJAAN, KEBANGSAAN DAN KEINDONESIAN Kirimkan Artikel anda ke : alhasan-petarukan@gmail.com